Tag Archives: Keamanan Nasional

https://orkutluv.com

Netanyahu Batalkan Pencalonan Eli Sharvit sebagai Kepala Shin Bet

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Selasa (1/4) memutuskan untuk membatalkan pencalonan Eli Sharvit, mantan Komandan Angkatan Laut Israel, sebagai Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri (Shin Bet). Keputusan ini diambil hanya sehari setelah pencalonan tersebut diumumkan pada Senin (31/3). Dalam pernyataan resminya, kantor Netanyahu menyampaikan bahwa PM Israel bertemu dengan Sharvit untuk menyampaikan terima kasih atas kesediaannya dan memberitahukan bahwa setelah melakukan pertimbangan lebih lanjut, ia akan mencari kandidat lain untuk menggantikan Ronen Bar, pemimpin Shin Bet saat ini. Bar sendiri masih menunggu keputusan pengadilan terkait pemecatannya.

Meskipun Netanyahu tidak menyebutkan alasan pembatalan tersebut, beberapa laporan media mengindikasikan bahwa keputusan ini diambil atas saran dari sekutu Netanyahu, khususnya Amerika Serikat, yang meminta dilakukan pemeriksaan lebih mendalam terkait Sharvit. Selain itu, laporan juga menyebutkan bahwa Sharvit, yang telah mengabdi selama 36 tahun di militer Israel, termasuk lima tahun sebagai komandan Angkatan Laut, pernah terlibat dalam unjuk rasa menentang rencana Netanyahu untuk merombak sistem peradilan di Israel.

Keputusan mendadak ini menuai kecaman dari pihak oposisi yang mendesak Netanyahu untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana demi kebaikan negara dan keamanannya, bukan berdasarkan tekanan politik. Sementara itu, ketegangan antara Netanyahu dan Ronen Bar semakin meningkat, terkait kegagalan pengamanan yang menyebabkan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, serta penyelidikan Shin Bet terhadap keputusan-keputusan pemerintah di masa perang.

Tragedi di Yahukimo: OPM Serang Guru, Satu Tewas dan Enam Luka-luka

Kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan serangan terhadap warga di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Insiden yang terjadi pada Jumat (21/3) itu mengakibatkan satu korban jiwa, enam orang mengalami luka-luka, serta sejumlah fasilitas pendidikan hangus terbakar.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa TNI berkomitmen melindungi masyarakat, terutama tenaga pengajar dan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah terpencil. Pasca insiden tersebut, TNI segera melakukan evakuasi terhadap tenaga pendidik dan tenaga medis di wilayah tersebut.

“TNI telah mengerahkan personel guna mengevakuasi korban, mengamankan lokasi, serta mendukung pemulihan situasi setelah aksi brutal dan tidak berperikemanusiaan dari kelompok OPM,” ujar Brigjen Kristomei dalam keterangannya, Minggu (23/3/2025).

Serangan ini diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Elkius Kobak. Sebelumnya, kelompok tersebut meminta sejumlah uang kepada tenaga pengajar, namun permintaan itu tidak dikabulkan. Akibatnya, mereka melancarkan serangan dengan melakukan pembunuhan, menganiaya enam tenaga pengajar, membakar gedung sekolah serta rumah guru, yang berujung pada ketakutan di kalangan masyarakat.

TNI bersama aparat terkait telah berhasil mengevakuasi sebanyak 42 tenaga pendidik dan tenaga kesehatan dari Yahukimo ke Jayapura. Selain itu, pengamanan di wilayah rawan juga diperketat, dengan koordinasi bersama pemerintah daerah untuk menindak tegas para pelaku.

“Peran tenaga pengajar dan tenaga kesehatan di Papua sangat krusial bagi kemajuan masyarakat setempat. TNI akan terus berupaya menjaga keselamatan mereka serta memastikan keamanan di wilayah yang berpotensi mengalami gangguan,” tegasnya.

Kapuspen TNI menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap berbagai aksi kekerasan yang mengancam keselamatan warga sipil dan stabilitas keamanan di Papua.

Partai Demokrat Hong Kong di Ambang Pembubaran: Oposisi Terbesar Tersudut Tekanan Politik

Partai Demokrat Hong Kong, yang pernah menjadi kelompok oposisi terbesar di kota tersebut, berencana untuk membubarkan diri di tengah meningkatnya tekanan politik dari pemerintah China. Ketua partai, Lo Kin-hei, mengungkapkan bahwa anggota partai akan segera memberikan suara untuk memutuskan nasib organisasi yang telah berdiri selama 31 tahun itu.

Langkah ini diambil setelah serangkaian tindakan keras dari Beijing terhadap perbedaan pendapat yang memuncak pasca-protes massal pada tahun 2019. Pemerintah China dan Hong Kong beralasan bahwa tindakan ini diperlukan demi menjaga keamanan nasional. Salah satu kebijakan yang mempersempit ruang gerak oposisi adalah “Undang-Undang Patriot” yang diberlakukan pada 2021. Aturan ini memastikan hanya individu yang setia kepada pemerintah komunis China yang diizinkan menjadi anggota parlemen atau dewan lokal, sehingga Partai Demokrat praktis terhalang untuk mengikuti pemilu.

Dalam konferensi pers usai pertemuan partai pada Selasa malam, Lo menyatakan bahwa keputusan untuk membubarkan partai didasarkan pada “situasi politik saat ini” yang semakin sulit bagi perkembangan demokrasi di Hong Kong. Meski demikian, ia tidak menjawab ketika ditanya apakah keputusan ini dipengaruhi oleh tekanan politik. Pembubaran partai memerlukan persetujuan dari minimal 75 persen anggota yang hadir dalam rapat umum mendatang, yang jadwalnya belum ditentukan.

Sementara itu, Regina Ip, penasihat pemerintah Hong Kong dan salah satu ketua Dewan Eksekutif, menuduh Partai Demokrat memiliki agenda yang bertentangan dengan China dan kerap menimbulkan masalah baik di dalam maupun di luar parlemen. Ia menganggap penurunan dukungan terhadap partai tersebut sebagai konsekuensi dari kebijakan mereka.

Partai Demokrat sempat mengalami perpecahan internal pada tahun 2010 setelah menggelar negosiasi dengan Kantor Penghubung—perwakilan pemerintah China di Hong Kong—untuk membahas pemilu yang lebih liberal. Langkah ini dipandang sebagai pengkhianatan oleh anggota muda partai, menyebabkan penurunan dukungan sebelum akhirnya bangkit kembali dan meraih kemenangan besar dalam pemilihan dewan lokal tahun 2019, yang berlangsung di tengah gelombang protes anti-pemerintah.

Sejumlah tokoh terkemuka Partai Demokrat, seperti Helena Wong, Lam Cheuk-ting, Wu Chi-wai, dan Albert Ho, saat ini menjalani hukuman penjara di bawah Undang-Undang Keamanan Nasional yang kontroversial. Mantan legislator Ted Hui, yang kini hidup di pengasingan di Australia, juga menjadi buronan pemerintah Hong Kong atas dugaan pelanggaran serupa. Awal pekan ini, pengadilan memerintahkan penyitaan aset dan uang miliknya yang tersimpan di Hong Kong. Selain itu, pada Desember lalu, pemerintah Hong Kong mencabut gelar kehormatan Justice of the Peace dari Martin Lee KC, salah satu pendiri Partai Demokrat, setelah ia kalah dalam banding atas vonis terkait demonstrasi ilegal.

Direktur CIA John Ratcliffe Jelaskan Alasan Pengunduran Diri Massal dan Efisiensi Tenaga Kerja di Era Trump

Direktur CIA John Ratcliffe memberikan penjelasan terkait pengunduran diri massal yang terjadi di lembaganya serta tawaran pesangon yang diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) kepada para pegawainya. Dalam pernyataannya pada Rabu (5/2/2025), Ratcliffe mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk menyelaraskan CIA dengan prioritas keamanan nasional yang ditetapkan pada masa pemerintahan Donald Trump. CIA, sebagai badan intelijen pertama, mengikuti kebijakan efisiensi yang digagas oleh pemerintah AS untuk memangkas tenaga kerja dan anggaran guna menghemat biaya operasional.

“Langkah-langkah yang diambil ini merupakan bagian dari strategi besar untuk memberi energi baru pada CIA, membuka peluang bagi pemimpin-pemimpin baru yang tengah berkembang, dan mempersiapkan lembaga ini untuk menjalankan misinya dengan lebih baik di masa depan,” kata juru bicara CIA, mengutip pernyataan dari kantor berita AFP.

Ratcliffe, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur CIA dari 2020 hingga 2021 di bawah pemerintahan Trump, baru saja disetujui kembali oleh Senat AS bulan lalu. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, CIA akan memastikan setiap analisis yang dihasilkan tetap mendalam, obyektif, dan tanpa bias politik. Selain itu, Ratcliffe menegaskan pentingnya mengumpulkan intelijen dari seluruh dunia, bahkan di wilayah yang sulit dijangkau. Dalam pidatonya kepada para petugas CIA, Ratcliffe memberikan tantangan bagi mereka untuk siap membuat perbedaan nyata dalam tugas mereka, atau memilih mencari pekerjaan baru jika mereka tidak sepakat dengan arahan kepemimpinannya.

Dengan perubahan besar yang terjadi di tubuh CIA, Ratcliffe berharap lembaganya dapat lebih responsif terhadap tantangan keamanan nasional yang terus berkembang, sekaligus mengedepankan transparansi dan objektivitas dalam setiap keputusan yang diambil.