August 4, 2021

Orkutluv Update

Blog News

Terungkap! Zakat Masyarakat Tak Tercatat Sampai Rp61, 25 Triliun

Terungkap! Zakat Masyarakat Tak Tercatat Sampai Rp61, 25 Triliun
Jakarta, Akuratnews. com - Jumlah penghimpunan zakat, infaq dan sedekah (ZIS) yang tidak melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) resmi pada 2020 sebesar Rp61. 258. 712. 487. 476. Alternatif masyarakat untuk tidak membayar derma melalui OPZ resmi menyebabkan angka penghimpunan ZIS di Indonesia yang tercatat jauh lebih rendah dari potensi yang ada.

Jakarta, Akuratnews. com – Jumlah penghimpunan zakat, infaq dan sedekah (ZIS) yang tidak melalui Organisasi Pemangku Zakat (OPZ) resmi pada 2020 sebesar Rp61. 258. 712. 487. 476.

Pilihan klub untuk tidak membayar zakat menggunakan OPZ resmi menyebabkan angka penyatuan ZIS di Indonesia yang terekam jauh lebih rendah dari daya yang ada.

Hal tersebut disampaikan Ketua BAZNAS, Prof Dr Bambang Sudibyo MBA MEMPERKIRAKAN dalam Acara Public Expose Survey Pembayaran ZIS Non Organisasi Pemimpin Zakat (OPZ) di Indonesia 2019-2020, Selasa (22/12).

Hadir pula Kepala Lembaga Pusat kajian Strategis (Puskas) BAZNAS, Dr Moh Hasbi Zaenal yang memaparkan hasil kajian secara lengkap.

“Menurut studi yang dilakukan Puskas BAZNAS, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp233, 8 triliun, sedangkan diketahui bahwa penghimpunan ZIS dengan nasional pada 2019 melalui OPZ resmi mencapai Rp10 triliun atau masih 5, 2 persen dibanding potensi zakat, ” kata Hasbi.

Menurut Charity Aid Foundation World Giving 2018, Nusantara dinobatkan menjadi negara yang menyesatkan dermawan. Pernyataan ini didukung secara kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki tipikal budaya untuk berbagi yang sangat kuat dan cenderung lebih suka berdonasi langsung kepada kerja dekat, atau orang yang memerlukan yang berada didekatnya.

“Oleh karena itu, dapat diasumsikan bahwa penghimpunan ZIS selama itu selain terdistribusi ke OPZ resmi, juga banyak melalui perorangan atau lembaga tidak resmi. Besarnya karakter berbagi masyarakat ini sayangnya menjadi tidak tercatat dalam Laporan Derma Nasional (LZN) yang disusun BAZNAS, ” kata Hasbi lagi.

LZN sendiri disusun BAZNAS setiap tahun untuk mencatat total penghimpunan dan penyaluran dari derma ZIS yang ditunaikan melalui BAZNAS maupun LAZ pada skala naaional, provinsi hingga kabupaten/kota. Data tersebut digunakan untuk pengambilan kebijakan penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mustahik.

Hasbi menambahkan, buatan risetnya terdiri dari jumlah derma sebesar Rp30. 503. 424. 730. 454 dan infak sedekah sejumlah Rp30. 755. 287. 757. 022.

Berdasarkan wilayahnya, 3 wilayah dengan jumlah pengumpulan ZIS terbesar yaitu wilayah Jawa (55, 95 persen) wilayah Sumatera (22, 76 persen) dan wilayah Kalimantan (9, 54 persen).

Kajian ini dilakukan dengan cara survei di 34 provinsi di Indonesia dengan responden terbagi menjelma tiga yaitu Dewan Kemakmuran Langgar (DKM), lembaga non-DKM, dan perorangan yang membayarkan zakat langsung ke mustahik.

Dari buatan survei yang dilakukan selama dua bulan pada pertengahan Agustus mematok Oktober 2020, didapatkan bahwa bukti yang terkumpul sebanyak 3. 211 responden yang terdiri dari 667 DKM Masjid, 477 Lembaga Pemangku ZIS Non DKM, dan dua. 067 perorangan.

Hasil survey penyatuan ZIS Non Kelembagaan Tahun 2020 lebih besar dari survey 2019. Pada 2019, hasil survei sejumlah Rp58. 286. 927. 636. 780 yang terdiri dari jumlah zakat sebesar Rp 29. 852. 206. 694. 358 dan Infak Derma sebesar Rp 28. 434. 720. 942. 422.

Jumlah pengumpulan ZIS terbesar sama secara 2020 yakni wilayah Jawa (55, 67 persen), wilayah Sumatera (22, 10 persen), dan wilayah Kalimantan (9, 34 persen).

“Hasil didapatkan bahwa besarnya jumlah pengumpulan ZIS yang tidak ditunaikan melalui OPZ resmi jumlahnya bertambah besar dibandingkan dengan jumlah ZIS yang berhasil dikumpulkan oleh lembaga zakat resmi, ” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, perlu upaya lebih kuat lagi dari BAZNAS dan LAZ resmi yang ada dan kebijaksanaan pemerintah yang memberikan insentif pada masyarakat agar menyalurkan ZIS meniti OPZ resmi yang sudah tersedia.

Selain itu, lantaran hasil tersebut diketahui bahwa simpanan ZIS merupakan dana filantropi dengan tetap mengalami peningkatan walaupun terjadi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 sehingga dapat dijadikan sumber pembiayaan dalam mengatasi masalah kemiskinan.

Untuk diketahui, BAZNAS bergabung Institut Pertanian Bogor (IPB), Komisi Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), dan Bank Nusantara (BI) baru-baru ini mengkaji pembalasan ZIS oleh masyarakat yang tak dilakukan melalui OPZ resmi.