December 3, 2020

Orkutluv Update

Blog News

Klarifikasi RSUD Panti Waluyo Madiun Perkara Pasien Meninggal Suspect Covid-19

Klarifikasi RSUD Panti Waluyo Madiun Perkara Pasien Meninggal Suspect Covid-19
Madiun, Akuratnews. com berantakan Otoritas RSUD Panti Waluyo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis, (5/ 11), mengklarifikasi kematian seorang penderita, yang sebelumnya dicurigai terpapar Covid-19. Kecurigaan tenaga medis rumah kecil tersebut merujuk pada uji Rapid tes setempat atas diri pasien, beberapa saat setelah masuk vila sakit, Minggu subuh, (1/ 11), yang menyatakan reaktif.

Madiun, Akuratnews. com – Otoritas RSUD Panti Waluyo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis, (5/ 11), mengklarifikasi moralitas seorang pasien, yang sebelumnya dicurigai terpapar Covid-19.

Kecurigaan tenaga medis vila sakit tersebut merujuk pada tes Rapid tes setempat atas muncul pasien, beberapa saat setelah mendalam rumah sakit, Minggu subuh, (1/ 11), yang menyatakan reaktif.

Sementara menurut hasil uji Swab yang keluar pada Selasa, (3/ 11), oleh laboratorium RSU dr. Sutomo Surabaya, menyatakan pasien bernama Lasmini, 60 tahun, awak Desa Sukorejo, Kecamatan Saradan, Madiun, tersebut negatif Covid-19.

Jeda waktu selama dua keadaan, antara hasil Rapid tes dengan hasil Swab, inilah yang diakui pihak rumah sakit sempat mendaulat disinformasi terkait kematian pasien.

Direktur RSUD Panti Waluyo Madiun, drg. Farid Aminudin, didampingi Kepala Bidang Pelayanan, dr. Ali Murtadlo, dan Humas, Yoyok Setyawan, menyatakan penanganan medis menurut protokol kesehatan, pasien yang dicurigai suspect Covid-19, sesuai hasil Rapid ulangan, maka diperlakukan sebagaiana layaknya pasien Covid-19.

“Kita tak mau kecolongan. Jadi protokol itu kita lakukan dimaksudkan sebagai kelakuan antisipasi. Pihak rumah sakit tidak salah memperlakukan pasien reaktif bagaikan pasien Covid-19. Karena aturan mainnya memang seperti itu, ” terang drg. Farid kepada jurnalis & Bambang Gembik, pihak LSM Penjaga Terate, pendamping keluarga pasien.

Karena pasien dicurigai berindikasi Covid-19, lanjut drg. Farid, metode paralel yang diambil tim medis, sesuai Protap penanganan Covid-19, lekas melakukan uji Swab atas diri pasien.

Dilanjutkannya, pra mincul hasil Swab yang membuktikan pasien itu negatif Covid-19, pasien meninggal dunia. Hingga pihak panti sakit tetap berpedoman pada hasil Rapid tes yang menyatakan reaktif.

Maka, jelas drg. Farid, semua penanganan jenazah pasien sampai pada pemakaman dilakukan pihak rumah sakit.

“Bahwa pada akhirnya hasil Swab membuktikan bahwa pasien negatif Covid-19, tersebut hal lain. Kita gambling buat hal positif kan tidak perkara. Pencegahan namanya. Ketimbang kita membuktikan pasien negatif, ternyata positif. Jika bagaimana dengan keluarga termasuk lingkungannya, ” imbuh dr. Ali Murtadlo.

Sementara, menjawab perkara Bambang Gembik terkait biaya pembelaan pasien, drg. Farid menyatakan bagian rumah sakit bertanggung jawab mengembalikan semua biaya yang dikeluarkan rumpun pasien, sewaktu pasien masih dinyatakan reaktif sesuai Rapid tes serta belum keluar hasil Swab dengan menyatakan negatif Covid-19.

Lantaran, tambah drg. Farid, bagian rumah sakit tidak mengenakan beban apapun terhadap pasien yang dicurigai tertular Covid-19 selama dalam pembelaan.

“Saya segera memberitahu keluarga pasien agar secepatnya meminta biaya transfusi darah, sesuai kwitansi, sebesar Rp. 740. 000, ” tutur Gembik.

Merujuk hasil tes akhir sebagai final guna menyudahi kesimpang siuran keterangan, yakni hasil Swab yang minus Covid-19, maka Direktur RSUD Tempat Waluyo Madiun, drg. Farid Aminudin, menegaskan pasien atas nama Lasmini tidak terpapar Covid-19.