October 29, 2020

Orkutluv Update

Blog News

Antara Green Lifestyle dan Kebutuhan Energi Ramah Lingkungan

Antara Green Lifestyle dan Kebutuhan Energi Ramah Lingkungan
Jakarta, Akuratnews. com - Enam persepuluhan persen gas rumah kaca pada dunia dihasilkan dari penggunaan gaya oleh manusia. Indonesia sendiri merupakan negara terbesar di ASEAN pada hal konsumsi energi, dan jumlahnya terus meningkat pesat. Menanggapi bahan tersebut, pemerintah Indonesia sendiri sudah menargetkan proporsi penggunaan energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2030, serta 31% pada tahun 2050.

Jakarta, Akuratnews. com kepala Enam puluh persen gas vila kaca di dunia dihasilkan lantaran penggunaan energi oleh manusia. Indonesia sendiri adalah negara terbesar pada ASEAN dalam hal konsumsi gaya, dan jumlahnya terus meningkat cepat. Menanggapi fakta tersebut, pemerintah Indonesia sendiri telah menargetkan proporsi penggunaan energi terbarukan sebesar 23% dalam tahun 2030, serta 31% pada tahun 2050.

Di dalam diskusi berjudul ‘Unlocking Renewable Energy Demand from Commercial and Industrial Buyers for Green Economy’ (24/09) yang diselenggarakan oleh Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Menteri ESDM Arifin Tasrif yang diwakilkan oleh Direktur Aneka Gaya Baru dan Terbarukan, Harris ST MT, menyampaikan, Indonesia berkomitmen buat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga tahun 2030 sebesar 29 persen tanpa bantuan dan 41 persen dengan dukungan internasional.

“Tentunya ini termasuk sebab sektor energi, pemerintah telah mengumumkan target penurunan emisi gas sendi kaca sebesar 314 juta ton CO2 di tahun 203, ” ujarmya.

Estimasi keinginan investasi untuk menurunkan emisi sejumlah 314 juta CO2 adalah Rp3. 500 triliun. Bidang Pembangkit Elektrik EBT ditargetkan dapat berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 156, 6 juta ton CO2 (atau 49, 8% dari total aksi mitigasi sektor energi) secara kebutuhan investasi sebesar 1. 690 Triliun Rupiah.

Dalam kacamata ekonomi, pengurangan biaya pada sistem energi, dikombinasikan dengan kontraksi polusi udara dan emisi karbon dioksida, akan menghemat hingga 53 miliar dollar AS per tahun, atau diperkirakan 1, 7% lantaran GDP Indonesia tahun 2030. Berarti, percepatan penggunaan energi terbarukan bisa meningkatkan GDP Indonesia sebanyak 1, 3% pada tahun 2030 (International Renewable Energy Agency, 2017).

Dari seluruh sektor, pabrik memiliki kebutuhan energi terbesar diikuti oleh sektor transportasi, rumah nikah, sektor komersial dan lain-lain. Mengubah sistem energi konvensional ke gaya terbarukan tentunya membutuhkan investasi. Bila penggunaan energi baru dan terbarukan dipercepat, investasi yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi masalah, apalagi biaya energi terbarukan kini sudah lebih rendah.

“Menurunnya biaya energi terbarukan telah menciptakan peluang baru untuk pemanfaatannya, tercatat di sektor komersial dan pabrik. Karena permintaan energi bersih terus meningkat di negara berkembang, daerah industri telah memimpin komitmen buat menggunakan energi bersih dalam operasinya, ” ujar Shinta Kamdani, President Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD).

Perusahaan anggota IBCSD yang menjadi  thought leader   di dalam penggunaan energi terbarukan antara lain adalah Coca-Cola Amatil Indonesia, lengah satu perusahaan pembotolan terbesar dan distributor minuman siap non-alkohol di Indonesia. Direktur  Public Affairs, Communications dan Sustainability  Amatil Indonesia Lucia Karina menyampaikan kalau sejak tahun 2017, Coca-Cola Amatil telah mendeklarasikan komitmen publik untuk target keberlanjutan yang akan dicapai di tahun 2020.

“Salah satu diantaranya adalah mengenai perubahan iklim dan energi, yang mana Coca-Cola Amatil menargetkan buat menggunakan setidaknya 60 persen lantaran kebutuhan energi dari energi terbarukan dan rendah karbon. Komitmen itu juga merupakan bentuk dukungan kepada upaya pemerintah Indonesia dalam menyandarkan emisi gas rumah kaca sejumlah 314 juta ton karbon dioksida atau CO2 pada tahun 2030, ” ungkapmya.

Bahasa dengan inisiatif  sustainability  yang telah dilaksanakan, di pokok tahun 2019, Coca-Cola Amatil Indonesia telah memulai pemasangan atap panel surya di pabrik terbesarnya di Indonesia di Cikarang Barat. Amatil Indonesia juga terus berinvestasi di program efisiensi energi di semua operasi, termasuk mentransformasi lemari es yang digunakan pelanggan dengan model yang lebih hemat energi, menukar sistem pencahayaan ke LED semenjak tahun 2016 di seluruh pabrik dan gudang, menjalankan konversi boiler, pembangkit listrik, dan energi forklift dari matahari menjadi gas alam dan gas alam terkompresi sejak tahun 2008. Disamping itu, semasa tiga tahun terakhir, CCAI telah mengganti solar dengan energi yang lebih ramah lingkungan, yaitu LNG dan LPG.

“Berbagai investasi telah digulirkan Amatil Indonesia untuk keberlanjutan lingkungan merupakan masukan konkrit komitmen kami untuk keberlanjutan lingkungan dan meninggalkan warisan tentu. Capaian Amatil Indonesia dalam mentransformasi operasi bisnis ke arah dengan lebih ramah lingkungan, merefleksikan komitmen kami untuk secara aktif membawabawa karyawan, pelanggan, komunitas lokal, pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang, ” ujar Lucia Karina.

Meningkatnya kesadaran sektor industri berasaskan penggunaan energi terbarukan yang ternyata tidak hanya baik untuk lingkungan, namun juga menguntungkan, selaras dengan naiknya permintaan atas produk yang  sustainable .

Ketersediaan energi dan akses umum terhadap energi masih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mencapai elektrifikasi nasional sebesar 100%. Agar elektrik dapat dinikmati secara merata pada masyarakat daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal (3T) dibutuhkan peran pemerintah dan swasta dalam menyediakan sumber energi yang terjangkau.

Sementara itu, SUN Energy mengangkat penuh inisiatif pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi bersih melalui persekutuan dan kemitraan di berbagai zona. “Melalui total kapasitas kontrak order yang kami miliki, SUN Energy turut mengurangi lebih dari 1, 5 juta ton emisi karbon yang berbahaya. Kami berharap dapat terus berkontribusi dalam akselerasi pergantian energi rendah karbon, serta mengundang para pelaku bisnis untuk menggunakan energi bersih melalui instalasi bentuk tenaga surya sebagai bentuk tanggung jawab menyelamatkan lingkungan kita, ” ujar Donny Sjarifudin, Head of Sales SUN Energy.

Diskusi terkait penggunaan energi terbarukan ini merupakan satu diantara rangkaian dibanding kampanye Program Green Lifestyle yang diusung oleh IBCSD. IBCSD sebagai asosiasi bisnis yang fokus di isu berkelanjutan sengaja menyediakan platform bagi sektor industri untuk dapat melakukan aksi kolaboratif untuk menjunjung prinsip konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.