September 23, 2020

Orkutluv Update

Blog News

Ulama, Ustadz dan Imam Masjid Marak Diserang, Menko Polhukam Serukan Tersebut

Ulama, Ustadz dan Imam Masjid Marak Diserang, Menko Polhukam Serukan Tersebut
Jakarta, Akuratnews. com - Insiden penusukan terhadap ustazah Syekh Ali Jaber menambah panjang daftar penyerangan yang menyasar ustazah, ustadz dan imam masjid. Sejak 2018, tercatat setidaknya ada lima aksi penyerangan terhadap pemuka agama yang cukup mendapat sorotan terbuka.

Jakarta, Akuratnews. com – Insiden penusukan terhadap ulama Syekh Ali Jaber menambah panjang jadwal penyerangan yang menyasar ulama, ustadz dan imam masjid.

Sejak 2018, tercatat setidaknya ada lima aksi penyerangan terhadap pemimpin agama yang cukup mendapat sorotan publik.

Pada Maret 2018, Imam Masjid At Tuqo, Kecamatan Kangkung, Kendal, Jawa Sedang, H Ahmad Zaenuri menjadi objek penganiayaan.

Insiden itu terjadi saat Zaenuri bersama menantunya hendak keluar dari rumah, dan mengeluarkan mobil dari garasi.

Saat itu, pelaku bernama Suyatno yang sedang mengamen menghajar menantu Zaenuri. Saat berusaha menolong, Zaenuri justru malah ikut oleh karena itu sasaran. Dia diserang hingga terluka.

Polisi kemudian menyelami peristiwa tersebut. Hasilnya disimpulkan bahwa tindakan pelaku murni kriminal pokok diduga ingin mengambil tas milik korban.

Masih dalam bulan yang sama, Ustadz Abdul Rahman (53) ditusuk pelaku berinisial SM alias V. Korban ditusuk saat sedang menjadi imam salat subuh berjemaah di Masjid Darul Muttaqin, Sawangan, Depok.

Polisi lantas melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. Sebab, berdasarkan tanda warga setempat, pelaku kerap berperilaku aneh.

Kemudian, dalam April 2018, seorang imam masjid di Sidoarjo, Jawa Timur bertanda Tajuddin dianiaya saat sedang memimpin salat maghrib.

Pada rakaat kedua, tiba-tiba datang karakter yang diketahui bernama Muhammad Rudiyanto menerobos barisan jemaah atau jajar shalat. Pelaku langsung memukul bagian belakang korban menggunakan benda tumpul.

Akibat penganiayaan itu, Tajuddin mengalami luka memar pada kepala bagian belakang.

Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui pelaku menderita depresi atau stres sehingga bertindak agresif terhadap orang di sekitarnya.

Perkara penyerangan kembali terjadi pada 2020. Juli lalu, Iman Masjid Al-Falah di Pekanbaru, Yazid Umar Nasution ditusuk pelaku berinisial IM secara pisau setelah memimpin shalat Isya.

Dari informasi yang dihimpun, pelaku diketahui kerap berkonsultasi dengan korban. Pelaku diduga kecewa terhadap hasil konsultasi itu tenggat akhirnya nekat melakukan aksi penusukan.

Atas peristiwa tersebut, polisi menetapkan IM sebagai simpulan dan melakukan penahanan terhadap dengan bersangkutan.

Lalu, dalam 11 September, seorang imam masjid bernama Muhammad Arif dibacok masa sedang memimpin shalat Maghrib di Masjid Nurul Iman Kelurahan Semenanjung Rancing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan,

Korban sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Namun, target akhirnya meninggal dunia setelah dirawat selama tiga hari.

Pelaku bernama Meyudin itu diketahui merupakan pengurus Masjid Nurul Keyakinan. Motif pelaku nekat melakukan aksinya diduga lantaran tersinggung saat target meminta untuk menyerahkan kunci tempat amal masjid. Polisi pun menetapkan Meyudin sebagai tersangka kasus penganiayaan.

Dan terakhir, Syekh Ali Jaber menjadi korban penusukan saat padahal mengisi acara ceramah di Langgar Fallahudin, Kota Bandar Lampung, Minggu (13/9).

Syekh Ali Jaber saat itu sedang berinteraksi dengan para jamaah yang tampil. Dia juga sempat ingin meminjam handphone untuk digunakan berfoto.

Di saat itulah, seorang pemuda berinisial AA tiba-tiba men dari sisi kanan dan mencoba menusuk Ali Jaber dan menghantam lengan kanannya.

Syekh Ali Jaber pun langsung dilarikan ke Puskesmas Gedong Air untuk mendapatkan perawatan. Sementara pelaku jadi ditangkap di lokasi kejadian berkat bantuan warga dan jamaah.

Berkaca dari sejumlah perkara tersebut serta penusukan Syekh Ali Jaber, Menko Polhukam, Mahfud MD pun menginstruksikan aparat keamanan menyimpan ulama yang sedang berdakwah.

“Kepada semua aparat, biar dari sekarang terus melakukan pemetaan, pemantauan dan perlindungan penuh pada dai. Terutama para ulama, apapun pandangan politiknya. Itu harus dilindungi kalau sedang berdakwah. Itu yang terpenting, ” kata Mahfud pada pernyataan secara virtual, Senin (14/9).

Menurut Mahfud, ustaz dan para pendakwah telah membikin budaya-budaya yang baik di tengah masyarakat. Para ulama dan pendakwah telah bekerja dengan ikhlas untuk membangun budaya-budaya yang baik tersebut.

“Kalau pemerintah sendiri, tidak akan mampu membangun bangsa sebaik ini tanpa peran dan para ulama dan para tukang dakwah yang telah bekerja dengan ikhlas, ” tutur Mahfud.