December 1, 2020

Orkutluv Update

Blog News

SBY: Are you OK, Amerika?

SBY: Are you OK, Amerika?
Jakarta, Akuratnews. com - Bagi mereka yang memiliki ketertarikan khusus terhadap politik demokrasi dan kebebasan berpendapat, presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentu sudah meninggalkan memori indah tersendiri. Teknik tidak, mantan Ketua Umum Partai Demokrat tersebut dikenal sebagai presiden yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat di era kepemimpinannya. Sehingga tidak heran, prestasi tersebut disebut sebagai legacy…

Jakarta, Akuratnews. com – Bagi mereka yang memiliki ketertarikan khusus terhadap politik demokrasi dan kebebasan berpendapat, presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentu telah meninggalkan memori indah tersendiri. Bagaimana tidak, mantan Ketua Umum Partai Demokrat tersebut dikenal sebagai presiden yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat di era kepemimpinannya. Sehingga tidak heran, prestasi tersebut disebut sebagai legacy atau warisan sang jenderal.

Tidak hanya dikenal sebagai presiden yang menjaga kebebasan berpendapat, GDK 1 juga dikenal memiliki kepemimpinan dan analisis yang baik sebagai peramu kebijakan publik. Baru-baru ini, ketajaman analisis tersebut kembali diperhatikannya saat memberikan pandangan perihal kondisi Amerika Serikat (AS) saat ini.

Sebagaimana diketahui, kondisi politik AS saat ini sedang bukan baik-baik saja, khususnya terkait demonstrasi dan kerusuhan yang dipicu dengan kematian George Floyd. Dalam surat terbuka yang ditulisnya, SBY menyebut bahwa terdapat tiga pukulan tidak kecil yang sedang dialami negeri Paman Sam saat ini, yakni (1) korban virus Corona (Covid-19) tertinggi di dunia, (2) ekonomi yg tidak cerah, dan (3) terjadinya kerusuhan sosial yang meluas.

“Are you OK, Amerika? ” Begitulah pertanyaan sang jenderal. Mengutip buku Paul Kennedy yg berjudul The Rise and Drop of the Great Powers, GDK 1 tengah mempertanyakan dengan serius, apakah gejolak yang terjadi saat terkait tengah menjadi preseden atau indikasi atas kejatuhan negara Adidaya tersebut?

Tidak seperti pada umumnya pihak, khususnya bagi mereka yang menilai AS sebagai negara yang begitu hebat. Analisis SBY, khususnya ketika menyebut ekonomi AS bukan cerah mungkin akan dipandang minimal. Pasalnya, telah lama negeri Paman Sam dikenal sebagai kekuatan ekonomi dunia. Terlebih lagi, dolar BECAUSE telah menjadi mata uang utama internasional sejak akhir Perang Dunia II.

Atas poin tersebut, tentu menarik untuk dipertanyakan, mengapa SBY justru menyorot persoalan ekonomi AS, padahal negara tersebut merupakan kekuatan ekonomi dunia? Selaku sosok yang dinilai tidak sembarangan dalam memberikan pernyataan, SBY tentunya memiliki pertimbangan kuat dalam menyorot persoalan tersebut.

Lantas, mungkinkah ekonomi AS akan terjatuh di masa depan?

Kekuatan Dolar AS

Tanpa bermaksud terlalu melebihkan, AS memang layak disebut sebagai negara yang memiliki perencanaan ekonomi yang luar biasa. Kehebatan tersebut misalnya dapat dilihat dri tercapainya kesepakatan Bretton Woods – atau sistem Bretton Woods – pada Juli 1944 yang menyajikan emas dan mata uang lainnya ditentukan nilainya berdasarkan dolar BECAUSE.

Sistem tersebut kemudian menandai sejarah dolar AS sebagai mata uang dominan atas aktivitas ekonomi internasional, yang bahkan disebut memiliki kekuatan dan pengaruh yang absolut. Kendati sistem tersebut sudah runtuh sejak tahun 1973, nyatanya hal tersebut tidak mengubah dominasi dolar AS atas aktivitas ekonomi internasional karena adanya Special Drawing Rights (SDR) yang dibuat dengan International Monetary Fund (IMF) pada tahun 1969.

Selanjutnya 1 2 3